Jejak Dakwah Walisongo
Sebuah Infografik PAI Kelas X
Guru Mapel: Kaniah, S.Ag.,M.Pd.I
Arsitek Islam Nusantara
Walisongo tidak hanya menyebarkan agama, mereka adalah "arsitek budaya" yang membumikan Islam di Nusantara. Mereka membuktikan bahwa ajaran baru dapat hadir bukan dengan paksaan, tapi dengan merangkul tradisi.
Wali Utama
Menjadi motor penggerak dakwah di Pulau Jawa.
Misi Damai
Menyebarkan Islam melalui Akulturasi & Kearifan.
4 Strategi Dakwah Utama
Dakwah Walisongo tidak monolitik. Mereka menggunakan berbagai pendekatan yang disesuaikan dengan keahlian mereka dan kondisi masyarakat. Fokus terbesar adalah pada adaptasi budaya.
Data berdasarkan jumlah Wali yang fokus pada tiap bidang (beberapa Wali memiliki fokus ganda).
Siapa Melakukan Apa?
Grafik ini menunjukkan jumlah Wali yang tercatat aktif menggunakan strategi tertentu sebagai jalur dakwah utama mereka. Kesenian & Budaya adalah jalur yang paling banyak digunakan.
Setiap Wali memiliki keahlian unik. Berikut adalah pembagian fokus mereka berdasarkan strategi utama yang diambil dari modul.
🎨 Kesenian & Budaya
- Sunan Kalijaga (Wayang)
- Sunan Bonang (Gamelan)
- Sunan Muria (Tembang)
- Sunan Giri (Permainan)
📚 Pendidikan
- Sunan Ampel (Pesantren)
- Sunan Giri (Giri Kedaton)
🏛️ Politik
- Sunan G. Jati (Kesultanan)
- Sunan Ampel (Penasihat)
- Sunan Kudus (Panglima)
🤝 Sosial & Ekonomi
- Sunan Gresik (Agrikultur)
- Sunan Drajat (Filantropi)
- Sunan Kudus (Toleransi)
Studi Kasus: Seni Akulturasi
Walisongo tidak memberantas budaya, tapi "mengisinya" dengan napas Islam. Ini adalah dua contoh paling ikonik dari strategi mereka.
Arsitektur Candi
Fungsi Masjid
Menara Kudus
(Simbol Toleransi Sunan Kudus)
Cerita Mahabharata
Filosofi Islam
Wayang Kulit
(Media Dakwah Sunan Kalijaga)
Warisan untuk Generasi X
Pelajaran dari Walisongo masih sangat relevan di era digital. Dakwah (menyebarkan kebaikan) bisa dilakukan dengan cara yang cerdas dan damai.
Kreatif & Inovatif
Gunakan media yang disukai (game, medsos) untuk kebaikan, seperti Walisongo memakai wayang.
Adaptif
Islam tidak kaku. Ia bisa berdialog dengan budaya lokal tanpa kehilangan inti ajarannya.
Toleran (Tasamuh)
Hargai perbedaan dan cari titik temu, bukan memperbesar konflik.
Sabar & Bertahap
Perubahan besar tidak instan. Kebaikan perlu ditanam dan dirawat dengan konsisten.
No comments:
Post a Comment